jpnn.com, JAKARTA - Industri Securities Crowdfunding (SCF) di Indonesia makin relevan sebagai salah satu kanal pembiayaan alternatif bagi UMKM, bisnis bertumbuh, dan sektor riil di tengah ketidakpastian ekonomi global, volatilitas pasar keuangan, dan dinamika geopolitik.
Berdasarkan proyeksi International Monetary Fund (IMF), pertumbuhan ekonomi global melambat menjadi 3,1% pada 2026. Sejalan dengan itu, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia 2026 melambat ke 3,0%, terutama akibat meningkatnya risiko geopolitik, volatilitas pasar keuangan, tekanan inflasi, dan kenaikan harga komoditas.
Meski demikian, Indonesia tetap relatif resilien, dengan pertumbuhan ekonomi 2026 diperkirakan berada pada kisaran 4,9%–5,7%, ditopang permintaan domestik dan sinergi kebijakan nasional.
Melalui acara SCF Days 2026: Governance to Growth for Securities Crowdfunding in the Capital Market Industry yang diselenggarakan oleh Asosiasi Layanan Urun Dana Indonesia (ALUDI) di Main Hall, Bursa Efek Indonesia, para pemangku kepentingan industri menegaskan bahwa pertumbuhan SCF harus dibangun di atas fondasi governance yang kuat dari penyelenggara, transparansi yang konsisten, perlindungan pemodal, serta kualitas penerbit yang semakin baik.
Heinrich Vincent, Wakil Ketua Umum I Bidang Pengembangan ALUDI sekaligus Founder dan CEO Bizhare, menyampaikan bahwa Securities Crowdfunding perlu dilihat bukan hanya sebagai platform pendanaan digital, tetapi sebagai Solusi dari ekosistem pasar modal yang mendukung pembiayaan produktif sektor riil.
“SCF menjadi relevan di tengah kondisi ekonomi saat ini, karena berbasis pada sektor riil dan memberikan kesempatan bagi pemodal untuk memperoleh keuntungan dari bisnis dan proyek yang terbukti menguntungkan, sekaligus Jadi Bermakna bagi masyarakat Indonesia secara lebih luas.” ungkap Vincent dalam keterangan resmi.
Namun, pertumbuhan industri ini harus selalu diimbangi dengan governance, transparansi, dan proses seleksi penerbit yang disiplin sehingga memitigasi risiko bagi Pemodal, ujarnya.
Menurut Vincent, strategi pemilihan bisnis menjadi semakin penting dalam kondisi ekonomi yang dinamis. Pemodal perlu melihat kualitas usaha, sektor industri, arus kas, rekam jejak manajemen, prospek pertumbuhan, serta kemampuan penerbit dalam menjalankan kewajibannya secara berkelanjutan.

















































