jateng.jpnn.com, SEMARANG - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah memastikan santriwati yang diduga menjadi korban kekerasan seksual oleh pengasuh Pondok Pesantren Ndolo Kusumo mendapat pendampingan intensif.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menegaskan pihaknya tidak hanya fokus mengawal proses hukum kasus tersebut, tetapi juga memastikan kondisi psikologis dan pendidikan korban tetap terjaga.
“Kami berharap bukan hanya kami kawal kasusnya, ada yang lebih penting adalah santriwati yang menjadi korban, karena mereka masih anak-anak, masih usia sekolah,” kata Gus Yasin di Semarang, Kamis (7/5).
Menurut dia, korban kekerasan seksual harus mendapat pendampingan agar tidak mengalami trauma berkepanjangan hingga putus sekolah.
“Kami harus memastikan mereka masih berani untuk sekolah. Ini yang paling penting karena masa depan mereka masih panjang,” ujarnya.
Gus Yasin mengatakan pendampingan korban saat ini dilakukan oleh Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A).
Pendampingan tersebut meliputi akses pendidikan, pemantauan kesehatan, hingga perlindungan psikologis bagi para korban.
Dia juga memastikan anak-anak yatim piatu maupun santri dari keluarga kurang mampu akan dibantu agar tetap bisa melanjutkan pendidikan secara gratis.


















































