jatim.jpnn.com, SURABAYA - Keluarga atlet Menembak dan Berburu Indonesia (Perbakin) di Surabaya yang diduga menjadi korban pelecehan seksual oleh pelatih, akhirnya buka suara.
Ayah korban berinisial JPZ mengungkapkan insiden memilukan yang menimpa anaknya itu terjadi pada Februari hingga 25 Maret 2026. Inisial terduga pelaku ialah JL.
Berdasarkan pengakuan putrinya, dugaan kekerasan seksual itu terjadi sebanyak enam kali, dengan modus hukuman.
"Hal ini terjadi sampai enam kali. Yang pertama itu di lingkup lapangan Perbakin, lapangan tembak berupa hukuman, gelitik. Lambat laun hukuman gelitik itu jadi terbiasa dan meranah ke pegang-pegang," katanya.
Tak berhenti sampai di situ, korban juga mengaku sempat dibawa ke hotel dan dipaksa untuk melakukan tindakan senonoh.
"Pelecahan juga ternyata dilakukan di dalam mobil milik pelaku. Waktu itu, nunggu hujan reda dan nunggu jemputan, disuruh nunggu di dalam mobil pelatih, di situ di grooming. Pelatih menyentuh bagian terlarang tubuh anak saya," katanya.
Perlakuan bejat sang pelatih itu terbongkar, manakala anaknya tiba-tiba untuk merengek meminta berhenti berlatih dan keluar dari organisasi.
"Sebelumnya saya sempat curiga, anak saya minta keluar dari aktivitas menembak tanpa alasan apapun. Saya tanya kenapa, karena kan eman mau pra PON, Porprov, persiapan. Dia enggak ngaku. Saya maksa harus tetap ikut," katanya.


















































