jateng.jpnn.com, LONDON - Dua puluh dua tahun penantian itu akhirnya runtuh. Arsenal resmi mengunci gelar Liga Inggris 2025/26 setelah Manchester City gagal mengalahkan AFC Bournemouth pada pekan ke-37. Selisih empat poin membuat tim asuhan Mikel Arteta tak lagi mungkin dikejar.
Namun, kisah Arsenal musim ini bukan sekadar soal juara. Ini adalah cerita tentang transformasi besar sebuah klub yang selama bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang nostalgia era Arsène Wenger.
Musim ini, Arsenal tidak hanya kuat. Mereka terasa menakutkan.
The Gunners menjadi tim dengan kemenangan terbanyak di liga, tampil stabil hampir sepanjang musim, dan kini berada di ambang sejarah lain, yakni selangkah lagi menjuarai UEFA Champions League untuk pertama kalinya.
Jika nanti mengalahkan Paris Saint-Germain di final, Arsenal bukan cuma menyandingkan dua trofi terbesar dalam semusim. Mereka juga akan menutup perjalanan Eropa tanpa kekalahan.
Yang membuat Arsenal berbeda musim ini adalah cara mereka menang.
Dulu, Arsenal identik dengan penguasaan bola cantik tetapi rapuh ketika ditekan. Kini, Arteta mengubah wajah timnya menjadi jauh lebih pragmatis dan dingin. Arsenal tidak selalu mendominasi bola, tetapi sangat mematikan saat transisi.
Ketika lawan kehilangan konsentrasi sepersekian detik, serangan Arsenal datang seperti gelombang.


















































