bali.jpnn.com, DENPASAR - Bisnis perhotelan di Bali tampaknya harus menghadapi tantangan cukup berat pada awal 2026.
Berdasarkan survei terbaru Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali, harga kamar hotel yang masuk dalam kategori properti komersial mengalami kontraksi tajam sebesar 5,85 persen pada triwulan I-2026 jika dibandingkan dengan triwulan IV-2025 yang sempat tumbuh 0,68 persen.
Penurunan ini disinyalir kuat sebagai dampak domino dari memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu arus turis asing berlibur ke Bali.
BI Bali juga mencatat adanya ketimpangan distribusi permintaan antarpelaku usaha, diperparah dengan berkurangnya ceruk pasar wisatawan domestik, khususnya dari sektor pemerintahan.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali, Achris Sarwani, mengungkapkan bahwa situasi ini memaksa para pelaku usaha melakukan penyesuaian.
"Koreksi harga pada segmen perhotelan terjadi karena meningkatnya tekanan kompetisi.
Di sisi lain, turis domestik saat ini sangat sensitif terhadap harga akibat faktor musiman (low season) dan adanya penyesuaian tarif," kata Achris Sarwani dilansir dari Antara.
Berdasar survei BI Bali, Indeks permintaan properti komersial di Bali pada triwulan I-2026 terkontraksi sebesar 9,27 persen.


















































