jpnn.com - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyampaikan bahwa pengelolaan sampah yang optimal harus dimulai dari pemilahan sejak sumbernya. Setiap jenis sampah membutuhkan pendekatan teknologi yang berbeda agar proses pengolahan dapat berjalan lebih efektif dan efisien.
"Teknologi pirolisis, misalnya, akan bekerja optimal pada sampah plastik dengan tingkat kemurnian tertentu, sementara teknologi lain lebih sesuai untuk sampah organik maupun residu," kata Menteri Brian, Selasa (19/5).
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi terus mendukung upaya percepatan pengolahan sampah menjadi energi sebagai solusi strategis menghadapi darurat sampah nasional.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Terbatas yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pangan bersama kementerian/lembaga terkait, pemerintah daerah, TNI, akademisi, dan lembaga riset nasional di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Selasa (19/5).
Rapat tersebut menjadi tindak lanjut amanat Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025, khususnya Pasal 15 ayat 2 dan 3, mengenai percepatan implementasi pengolahan sampah menjadi energi.
Pemerintah menegaskan bahwa persoalan sampah tidak lagi dapat ditangani secara konvensional, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor berbasis sains, teknologi, dan inovasi yang terintegrasi.
Dalam forum tersebut, dibahas dua agenda utama, yakni percepatan pembangunan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi (PSE) Listrik di 12 lokasi prioritas serta pengembangan teknologi pirolisis dan bioenergi untuk mengubah timbunan sampah menjadi bahan bakar terbarukan.
Langkah ini diharapkan mampu mempercepat pengurangan volume sampah sekaligus mendukung ketahanan energi nasional menuju target operasional pada tahun 2028.





















































