Kepemimpinan Tenang dan Intelektual Khofifah Sebagai Fondasi Transformasi Kebijakan

1 month ago 34

Oleh: Dr Lia Istifhama, S.sos, S.Sos.I, S.H.I, M.E.I - Anggota DPD RI/MPR RI

Kepemimpinan Tenang dan Intelektual Khofifah Sebagai Fondasi Transformasi Kebijakan

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Ilustrasi Foto: Source for JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Dalam lanskap politik nasional yang sering kali dinamis, riuh, bahkan keras, kehadiran figur pemimpin yang mampu membawa ketenangan sekaligus ketajaman berpikir menjadi sebuah kebutuhan krusial.

Realitas politik kita hari ini kerap diwarnai oleh polarisasi dan pragmatisme jangka pendek.

Di tengah situasi tersebut, Khofifah Indar Parawansa hadir sebagai antitesis: seorang figur yang menunjukkan bahwa konsistensi gagasan, keteguhan nilai, dan ketenangan emosional dapat menjadi kekuatan utama dalam membangun kebijakan publik yang berkelanjutan.

Gaya kepemimpinan ini sangat lekat dengan konsep Quiet Leadership (Kepemimpinan Sunyi) dari David Rock dan Susan Cain, sebuah tesis kepemimpinan yang membuktikan bahwa pengaruh terbesar tidak lahir dari kepemimpinan yang dominan secara agresif, melainkan dari kedalaman refleksi, mendengarkan secara aktif, dan ketenangan dalam mengambil keputusan strategis di tengah krisis.

Tepat pada hari ini, 19 Mei, saat beliau memperingati hari kelahirannya, momentum ini bukan sekadar refleksi bertambahnya usia, melainkan perayaan atas matangnya sebuah manifesto kepemimpinan yang telah didedikasikan bagi bangsa.

Sebagai anggota DPD RI, saya memandang Khofifah bukan sekadar sebagai politikus perempuan yang sukses meniti karier, melainkan sebagai sosok pemimpin utuh yang matang secara politik, kuat secara intelektual, dan peka secara sosial.

Karakteristik ini mencerminkan model Transformational Leadership (Kepemimpinan Transformasional) yang digagas oleh James MacGregor Burns, di mana seorang pemimpin mampu menaikkan standar moral, motivasi, dan kesadaran pengikutnya melampaui kepentingan pribadi demi kemaslahatan bersama.

Momentum 19 Mei ini menjadi penanda penting dari rekam jejak panjang beliau—mulai dari panggung parlemen, menteri di tingkat nasional, hingga memimpin Provinsi Jawa Timur—sebuah perjalanan karier yang tidak instan, melainkan proses pembentukan kepemimpinan yang reflektif, di mana setiap langkahnya berbasis pada data, gagasan, dan pengalaman sosial yang mendalam.

Tepat pada hari ini, 19 Mei, Khofifah memperingati hari kelahirannya, dan menjadi momentum perayaan atas matangnya sebuah manifesto kepemimpinan.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |