jpnn.com - Menjelang Muktamar ke-35, suasana di tubuh Nahdlatul Ulama mulai memanas. Nama-nama bermunculan.
Silaturahmi politik makin intens. Poros-poros mulai saling membaca arah.
Sebagian bergerak terang-terangan, sebagian lain masih bergerak dalam ruang-ruang yang sunyi.
Semua tampak biasa saja bagi organisasi sebesar NU. Muktamar memang selalu menghadirkan dinamika.
Namun, ada satu hal yang akhir-akhir ini terasa mengganggu: bayang-bayang kekuasaan negara yang terlalu jauh masuk ke dalam rumah NU.
Kita mulai mendengar percakapan tentang siapa yang direstui penguasa, siapa yang dekat dengan presiden, siapa yang mendapat dukungan jaringan negara, bahkan siapa yang dianggap “aman” bagi kekuasaan.
Seolah-olah Muktamar NU hanya bisa selesai jika ada lampu hijau dari negara.
Sebagai warga nahdliyin, saya merasa cara berpikir seperti ini bukan hanya keliru, tetapi juga menyakitkan secara historis.





















































