jpnn.com, JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS (USD) terus melemah dan menembus Rp17.529 per USD.
Kondisi tersebut dinilai juga bakal berdampak pada harga bahan bakar minyak (BBM).
Menurut pakar ekonomi dan bisnis Universitas Hasanuddin, Profesor Hamid Paddu, pelemahan kurs Rupiah sangat berpengaruh terhadap bahan baku impor, termasuk BBM nonsubsidi.
Pasalnya, Indonesia merupakan net importir minyak sejak 2004.
Produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang mencapai 1,6 juta barel per hari. Sementara, produksi Indonesia hanya 650 ribu barel per hari.
“Nah, impor tentu dibeli dengan nilai mata uang, valuta asing, dalam hal ini Dollar AS. Makanya, nilai tukar sangat mempengaruhi harga BBM,” kata Hamid.
Hamid menjelaskan, baik nilai tukar mata uang maupun harga minyak dunia, saat ini sudah melebihi asumsi APBN. Dalam APBN 2026, asumsi nilai tukar adalah Rp16.500 per USD. Sedangkan harga minyak dunia yang saat ini USD105 per barel, jauh di atas asumsi APBN yaitu USD70 per barel.
“Berarti untuk impor, beban energi minyak sudah kena dua kali. Pertama kena dari harga minyak dunia kemudian dari kurs,” lanjutnya.





















































